Bertemu Lingkungan yang Mengangkat: Sebuah Pengalaman Pribadi yang Mengubah Banyak Hal

yohan wibisono

Bertemu Lingkungan yang Mengangkat: Sebuah Pengalaman Pribadi yang Mengubah Banyak Hal

yohan wibisono
yohan wibisono

Semalam, aku tidur di kantor. Bukan karena lembur berlebihan atau karena ingin terlihat sibuk, tapi entah kenapa hati terasa penuh. Ada banyak hal yang sedang kupikirkan, banyak rencana, banyak beban, dan banyak harapan yang bergantian berdatangan di kepala. Kantor terasa seperti tempat paling aman saat itu—sunyi, stabil, dan tidak menuntut apa pun dariku.

Sekitar jam 9 malam, partnerku di kantor arsitek Surabaya, Pak Nawir, menoleh dan bertanya santai,
“Nanti mau dijemput jam 03.00 pagi? Tahajudan di masjid sini.”

Aku kaget. Jam 3 pagi? Tahajud di masjid? Kalau jujur, itu bukan kegiatan rutinku. Memang, aku tahu pentingnya tahajud, aku paham keutamaannya, aku sering mendengarnya di ceramah atau membaca tentang betapa dahsyatnya doa di sepertiga malam. Tapi dalam praktiknya? Sulit. Banyak sekali alasan: capek, ngantuk, lupa, tidak terbiasa.

Tapi entah kenapa waktu itu aku menjawab:
“Iya, nggak apa-apa.”

Jawabannya keluar begitu saja. Mungkin karena aku sedang dalam fase ingin memperbaiki diri. Atau mungkin karena aku butuh perubahan. Bisa juga karena aku tahu, ajakan seperti ini tidak selalu datang.

Dan benar saja. Jam tiga kurang, WhatsApp berbunyi:
“Sudah siap?”

Aku menghela napas sebentar, lalu menjawab: “Siap.”

Ia menjemputku. Kami berdua melaju ke Masjid Al Shobirin, Rungkut.


Ketika yang Sulit Ternyata Menjadi Nikmat

Sesampainya di masjid, suasana begitu tenang. Lampu-lampu temaram, udara dingin, dan jamaah yang sedikit tapi penuh ketulusan. Rasanya berbeda sekali dengan suasana masjid di waktu-waktu lain.

Aku mulai dengan sholat tobat. Ada perasaan seperti sedang “bersih-bersih” bagasi hidup. Kemudian sholat hajat, lalu tahajud. Setelah itu, aku lanjutkan dengan dzikir. Semuanya dilakukan pelan, tanpa terburu-buru.

Dan di momen itu aku sadar:

Waktu terasa cepat sekali. Padahal biasanya ibadah terasa lama kalau dilakukan tanpa hati. Tapi kali ini… enak banget. Nyaman. Ringan.

Rasanya seperti sedang di-charge ulang. Dan ketika selesai, aku merasa ada bagian dalam diriku yang kembali hidup.

Setelah sholat subuh berjamaah, ternyata ada kajian subuh yang diisi oleh dr. Jefri. Pembahasannya ringan tapi menenangkan, seperti nasihat seorang sahabat. Lalu setelah itu, semua jamaah makan bersama. Makanannya disediakan oleh pihak masjid—sederhana, tapi menghangatkan.

Aku melihat orang-orang saling menyapa, saling mendoakan, saling menyemangati. Ada rasa kekeluargaan yang sudah lama tidak kurasakan.

Dan di perjalanan pulang, aku akhirnya benar-benar paham sesuatu yang selama ini cuma teori:

Dengan siapa kita bergaul, itu akan mempengaruhi aktivitas harian kita.


Lingkungan Itu Menular—Entah Baik, Entah Buruk

Aku hampir tidak pernah tahajud di masjid. Bahkan untuk membuka mata di jam 3 pagi saja biasanya berat. Tapi karena Pak Nawir menjemputku, karena aku berada di dekat orang yang punya kebiasaan baik, maka aku akhirnya ikut terbawa.

Bukan karena dipaksa.
Bukan karena dinasihati.
Bukan karena ditekan.

Namun karena energi kebaikan itu menular.

Orang yang punya kebiasaan baik tidak selalu mengajarkan kita dengan kata-kata. Kadang mereka mengajarkan kita lewat tindakan, lewat ajakan sederhana, lewat kehadiran mereka.

Dan ini membuatku berpikir:

Kalau satu ajakan kecil saja bisa mengubah pagiku, bagaimana jika aku menghabiskan banyak waktu dengan orang-orang yang rutin melakukan kebaikan?

Bagaimana jika lingkunganku adalah orang-orang yang suka bangun pagi, rajin membaca, semangat belajar, dan saling mengingatkan?

Bagaimana kalau setiap hari aku berada di tengah orang-orang yang ingin hidupnya naik kelas, ingin dekat dengan Tuhan, ingin memperbaiki diri?

Pasti hidupku ikut terangkat.


Lingkungan adalah Cermin Masa Depanmu

Ada sebuah kalimat yang dulu sering kudengar:

“Kamu adalah rata-rata dari lima orang terdekatmu.”

Mulai dari cara berpikir, kebiasaan sehari-hari, bahkan kualitas hidup—semuanya pelan-pelan akan menyesuaikan dengan lingkungan kita.

Kalau kita berkumpul dengan orang yang pemalas, cepat atau lambat kita akan merasa malas itu normal.
Kalau kita bergaul dengan orang yang suka mengeluh, kita akan mulai ikut mengeluh.
Kalau kita dikelilingi orang yang tidak punya mimpi, kita akan berhenti bermimpi.

Sebaliknya:
Kalau kita berteman dengan orang yang suka menabung, kita cenderung ikut menabung.
Kalau kita dekat dengan orang produktif, kita jadi ingin produktif.
Kalau kita dekat dengan orang yang suka bangun pagi, kita akan ikut bangun pagi.
Kalau kita bersama orang yang dekat dengan Allah, kita akan ikut mendekat.

Lingkungan adalah mesin pengubah perilaku paling efektif di dunia.

Tanpa ceramah panjang.
Tanpa nasihat berulang-ulang.
Cukup tinggal bersama mereka.

Kebiasaan mereka akan meresap ke dalam diri kita.


Ketika Hidup Mentok, Coba Ganti Lingkunganmu

Banyak orang merasa mentok.
Merasa kehilangan semangat.
Merasa hidupnya stagnan.
Merasa tidak berkembang.

Kadang solusi yang mereka cari adalah:

  • ikut seminar motivasi

  • baca buku self-help

  • liburan

  • meditasi

  • ganti pekerjaan

  • ganti hobi

Itu semua baik. Tapi ada satu hal yang sering diabaikan:

Ganti lingkunganmu.

Ada masanya masalah tidak selesai karena kamu kurang usaha,
tapi karena kamu salah lingkungan.

Kalau kamu ingin berhenti merokok tapi teman-temanmu semua merokok, berat.
Kalau kamu ingin rajin menabung tapi lingkunganmu boros, kamu akan kalah.
Kalau kamu ingin hidup sehat tapi orang-orang di sekitarmu malas olahraga, motivasi akan cepat habis.
Kalau kamu ingin lebih dekat dengan Allah tapi lingkunganmu jauh dari ibadah, kamu akan sulit istiqamah.

Bukan karena kamu lemah,
tapi karena lingkunganmu terlalu kuat.

Kadang kita tidak perlu mengubah seluruh hidup.
Cukup mengubah siapa yang ada di sekitar.


Pergaulan yang Baik Mengangkat: Kamu Tidak Perlu Hebat Sendirian

Pengalaman tahajud bersama itu membuatku sadar bahwa manusia memang makhluk sosial. Kita tidak dirancang untuk hebat sendirian. Iman kita naik turun. Semangat kita naik turun. Mood kita naik turun.

Lingkungan yang baik bertugas untuk:

  • mengangkat ketika kita sedang turun

  • menenangkan ketika kita sedang gelisah

  • menegur ketika kita mulai melenceng

  • menyemangati ketika kita lelah

  • mengingatkan ketika kita lupa

Kita tidak butuh teman yang sempurna.
Kita hanya butuh teman yang menuju arah yang benar.

Tidak semua orang bisa mengajakmu tahajud.
Tidak semua teman bisa mengajakmu belajar.
Tidak semua orang bisa mengajakmu berpikir besar.

Kalau kamu menemukan satu saja… pertahankan.


Bagaimana Memulai Perubahan?

Tidak semua orang bisa langsung mengubah lingkungannya. Tapi ada langkah-langkah kecil yang realistis:

1. Mulai dari satu orang

Satu teman baik bisa lebih kuat dari sepuluh teman buruk.
Cari satu orang yang kualitas hidupnya kamu kagumi. Dekatlah pelan-pelan.

2. Pergi ke tempat yang baik

Masjid, komunitas belajar, komunitas bisnis, kelas kajian, seminar, volunteer.
Tempat menentukan kualitas pergaulan.

3. Kurangi interaksi dengan lingkungan yang melemahkan

Tidak perlu memutus hubungan.
Cukup kurangi waktunya.

4. Jadilah versi terbaikmu

Orang baik tertarik dengan orang yang juga berusaha menjadi baik.

5. Ajak satu orang untuk sama-sama berubah

Kadang perubahan paling kuat berawal dari dua orang yang saling menyemangati.


Penutup: Hidupmu Akan Berubah Ketika Orang di Sekitarmu Berubah

Pengalamanku pagi ini sederhana: bangun jam tiga, tahajud, dzikir, kajian, sarapan.
Tapi efeknya besar.

Aku merasa lebih ringan.
Lebih dekat dengan diriku sendiri.
Lebih sadar bahwa aku butuh lingkungan yang mengangkat.

Dan aku ingin orang lain juga merasakan hal yang sama.

Kalau kamu merasa hidupmu mentok, jangan buru-buru menyalahkan dirimu.
Coba lihat lingkunganmu.

Siapa yang kamu ajak ngobrol setiap hari?
Siapa yang kamu dengarkan?
Siapa yang kamu ikuti?
Siapa yang mengisi pikiramu?

Karena pada akhirnya…

Lingkungan yang benar akan membuatmu menjadi versi terbaik dari dirimu, bahkan di hari ketika kamu sendiri sedang tidak kuat.

Dan mungkin, perubahan hidupmu dimulai dari satu ajakan sederhana—seperti pesan jam 03.00 pagi:
“Sudah siap?”

One thought on “Bertemu Lingkungan yang Mengangkat: Sebuah Pengalaman Pribadi yang Mengubah Banyak Hal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top