Yang Tenang Melunakkan yang Tidak Tenang

Bersusun narasi dan hidup. Perjalanan mengakumulasi pengalaman. Generasi ke generasi dirahasiakan dan ada yang dibagikan. Kita tumbuh dengan cerita/ kisah turun menurun. Termasuk perihal ombak. Diluasan pandang saat kita tenggelam. Saat kita tidak tenang, banyak bergerak. Maka kita kan tenggelam.

Karena arus berlawanan diatas dan dibawah. Maka menenggelamkan. Saat kita tidak tenang.

Di air saat kita tenang, justru kita tidak tenggelam.

Berbagai permasalahan hidup. Bertubi-tubi. Saat tidak terurai segera, maka permasalahan yang lain menyusul. Bertumpuk campur. Saat kita berusaha menyelesaikan dengan berbagai cara, pengalaman, teknologi, dan tips-tips ribuan kita baca dan tonton. Seakan kita semakin tenggelam dengan waktu. Tiba-tiba sudah berumur, dapat tujuan belum tercapai.

Kenapa?

Hampa?

Saat tenang, saat tensi mampu kita turunkan. Dingin. Segalanya kita lepas. Ikhlas. Tiba-tiba solusi berdatangan sendiri. Ternyata yang awalnya masalah ternyata bukan masalah (1). Yang awalnya tampak tujuan hidup ideal yang harus kita capai, ternyata bukan tujuan ideal lagi (2).

Jawabannya ada di dalam. Saat kita tenang. Saat hanya nafas yang kita rasa dan tahu. Tiba-tiba semuanya sudah selesai.

Tercerahkan.

 

Susun Ulang Narasi Hidupmu untuk Mencapai Tujuanmu

Kamu siapa? Mau apa? Mau kemana? Apa tujuan-tujuanmu? Apa manfaatmu menjadi ada? Rasamu apa?

Suatu kali seorang triliuner bilang padaku secara personal saat aku memutuskan banyak belajar banyak darinya. Di suatu musim, saat kemarau panjang di batin. Mungkin karena bertubi-tubi kekurangan. Seperti pola kebiasaan menahun. Sehingga ga sadar merasa semuanya sudah benar. Padahal sebenarnya bisa diperbaiki. Triliuner itu bilang padaku :

Aku ini ga lebih sibuk darimu, tapi aku menghasilkan jauh lebih banyak darimu

Kamu harus banyak berpikir. Memikirkan banyak hal. Berpikir ulang. Temukan hal-hal yang bertentangan dalam hidupmu. Bertentangan dalam premis-premismu.

Ini bahasa dan contoh sederhananya :

Misal : Jika dulu kala aku pernah menentang dan mengharamkan MLM, lalu saat ini (20 tahun kemudian) aku terjun dalam bisnis MLM. Maka aku yang sekarang harus menemui aku yang dulu dan berdialog. “Hey apa kabarmu, ayo kita bicara…”

Saat ini mungkin aku sedang menyusun ulang tujuan hidupku. Setidaknya itu niatku. Tujuan hidup aku tulis dicatatan dan dibenak, lalu mendialogkannya dengan diriku yang kemaren – saat ini – dan diriku di masa depan. Aku dan kami menemukan banyak perbedaan. Perbedaan pandangan.

Keputusan-keputusan yang dangkal di masa lalu karena keterbatasan informasi atau kurang bijak dalam menyikapi sesuatu. Dan kami membicarakan panjang lebar. Sesering kami mampu.

Okta dan Bambang

Beberapa sahabat aku panggil. Berbagai teknik aku dengar. Beberapa buku berbicara. Dan nanti 6 oktober pun ku jadwalkan privat seminar.

  1. Tentukan tujuanmu, dan posisimu sekarang
  2. Bangun narasi indah perihal itu
  3. Lalu bungkam dan buang narasi-narasi lama dalam benak sadar maupun alam bawah sadar yang bertentangan dengan tujuanmu sekarang
  4. Bangun premis-premis searah yang saling mendukung
  5. Cek selalu progresnya

Beberapa kali tubuh bergetar. Menggigil. Melepas sampah-sampah emosi dan koneksi negatif masa lalu. Mengakuinya (1), Mohon Ampun (2), Memutuskan untuk Memutus Koneksinya (3), Demi Kebaikan Bersama (4), lalu Memohon Kebaikan pada RABB (5). Setidaknya itu skemanya.

Jika sadarmu ke timur, pastikan tidak sadarmu juga ke timur. Selalu akan ada jalan bagi yang benar-benar berusaha 🙂

 

Perjalanan, Mendengarkan

Kemaren

Perjalanan panjang Surabaya – Makassar – Soppeng. Terutama perjalanan daratnya dari Makassar ke Soppeng yang naik dan meliuk-liuk dengan kecepatan 60-80 km perjam. Mengerikan. Tengah malam. Abad kegelapan, eh.

Bukan perihal siapa yang akan kita sua selama perjalanan, namun cara sang sopir menaklukkan jalan ditengah malam itu. Jalan sempit, dengan kecepatan yang hampir sama jika kita di jalan tol di Surabaya – Mojokerto.

Berangkat 9 malam setelah makan di Apong – Makassar. 4 jam perjalanan direncanakan. “Percayakan pada sopirnya”, kata Yulia. Ternyata tidak mudah mempercayakan rasa aman. Walau sering kusampaikan saat mentoring bisnis : “Serahkan pada ahlinya, anda fokus pada keahlian anda”.

Asa

Aku melihat banyak orang berlarian mengejar asa mereka. Melakukan banyak hal yang mereka pikir merupakan jawaban atau solusi. Beberapa mencapai asa mereka, kebanyakan tidak. Ada yang kelelahan dan berhenti (1). Putus asa. Ada yang tidak berhenti namun tidak pernah menemukan solusi pencapaian (2). Melakukan banyak hal namun ga sampai-sampai pada asa mereka. Ada yang berganti-ganti impian dan tidak sampai-sampai (3). Ada juga yang lucu : Mensyaratkan ga ketawa dulu sampai asa tercapai. Lupa bahagia 🙂 (4)

Ada yang kemudian mencarinya di buku-buku, seminar, video, dan privat-privat lainnya (1). Ada yang mencarinya kedalam diri sendiri (2). Kontemplasi, meditasi, hingga menemukan insight. Yang nemu ya nemu, jadi orang baru. Ada ‘ngerasa nemu’ trus jadi dukun, eh. Sakti Mandratakguna. Hehe

Ada yang menyerah, lalu mencari alibi. Ah yang penting bahagia. Yang penting ortu bahagia. Yang penting mantan bahagia. Ada yang mengakui tidak mencapainya. Ada yang bersyukur, ada yang nyukurin orang. Eh,

Aku mendengar dan melihat perih dengan kualitas yang sama untuk orang yang tidak bisa membeli jam tangan yang dia idam-idamkan seharga ratusan juta (ngambegnya setahun) VS perihnya lapar. Aku mendengar dan melihat impian-impian yang sesungguhnya bukan impian milik mereka sendiri. Impian yang ditancapkan oleh orang-orang lain yang dirasa bagus, atau memang ‘pemimpi mimpi milik orang lain’ itu sedang dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan lain.

Dalam perjalanan-perjalanan panjang terkadang kita menemukan pemahaman. Untuk tumbuh. Untuk menjadi lebih baik. Untuk melihat dari luar perihal kita sendiri dan gumulan sehari-hari : Ternyata aku banyak ribut disitu, padahal sebaiknya aku disono.

Jadi saran :
Banyak-banyaklah berpikir dalam perjalanan, foto selfie itu nomor 200. Bahagiakan jiwa anda, nafkahi. Ajak ngobrol dia. Dia sangat butuh. Bukan selalu ‘ngobrol’ dengan ego anda yang sedang ingin menunjukkan ke teman-teman disuatu tempat yang entah tak peduli bahwa anda sedang bahagia disuatu tempat yang lain yang tidak lebih indah dari kamar tidur anda (atau hati anda yang sesungguhnya). Itu nomor 300 nafkahi ego.

Jadi dengarkan jiwa Anda. Apa yang sedang dia coba sampaikan. Mungkin jawabannya ada disitu. Jawaban yang selama ini anda cari. Atau jawaban yang pertanyaannya pun belum pernah ada dibenak namun ini melengkapi anda. Untuk lebih dari cukup. Dan lebih dari bersyukur.