Awal-awal dulu menikah, saya berharap Allah memberikan anak laki-laki kembar. Sekalian saja menurut saya. Karena kami menikah saat sama-sama usia mendekati 40. Segera hamil, lebih dari satu, lalu fokus hal lain.

Namun Allah Maha Tahu. Bahwa kami mungkin tidak mampu jika langsung punya anak kembar. Maka kami diberi ‘anak kembar’ dengan selisih lahir 15 bulan. Laki-laki.

Ternyata bayi laki-laki berbeda dengan 2 kakaknya perempuan. Lebih agresif, berenergi, mencoba sana-sini, merobohkan banyak perabotan, memporak-porandakan toko eyangnya (termasuk didalamnya membanting telor mentah dan bermain diatasnya, menuang tepung, beras, dan lain sebagainya); dan banyak aktifitas lainnya.

Mereka berdua sepertinya memang berkomplot untuk membangun kesabaran kami lebih.

Untuk keputusan kami berdua untuk menemani anak-anak tumbuh tanpa rewang, ini merupakan keputusan besar. Saya tidak lagi bekerja sendiri seperti dulu bisa dirumah saja. Sekarang saya kerja kantoran. Kesabaran istri saja lebih diuji lagi.

Konon semua jenis kesabaran selalu berbuah manis. Seperti:

  1. Dua bayi kami beraroma anak-anak kami. Tidak ada lagi aroma rewang kami yang biasa menggendongnya.
  2. Empat anak kami dipaksa tumbuh mandiri lebih baik. Misal saat urusan makan. Agar urusan segera cepat beres, rewang kami mengambil langkah praktis dengan menggendong dan mendulang anak kami; akhirnya, kemampuan Alya yang sudah beranjak 2 SD untuk makan selalu berkembang menjadi keributan antara dia dan ibunya.
    Butuh waktu 1 jam lebih untuk makan sepiring nasi berikut lauk dan sayurnya. Itu pun jika sudah dibantu dengan banyak omelan dan peringatan untuk segera menyelesaikan makannya.
  3. Kami melihat perbedaan jelas karakter dan keberminatan anak-anak kami atas sesuatu. Dan kemudian lebih berani dalam membantu mengambil keputusan untuk mereka. Misal Aska sang kakak yang kami keluarkan dari sekolahnya (5 SD saat ini jika tetap bersekolah) dan fokus pada belajar desain.
  4. Kami lebih banyak ‘kruntelan’ berkumpul tertawa bersama diatas dua spring bed belasan juta (harga masing-masing) disambung menjadi satu memanjang (cukup untuk koprol beberapa putaran) yang sudah porak-poranda wujudnya karena ompol – muntahan – bekas makanan walau usianya baru satu tahun. Tempat terindah bagi keluarga kami.

Intinya kami lebih bahagia.

Istriku beberapa kali menunjukkan foto sebuah ruang rumah yang rapi dan elegan. Kata dia pengen punya ruang seperti itu, sementara rumah kami selalu berantakan dengan aktifitas anak-anak kami. Namun sepasang psikolog kami selalu bilang:

“Kalau punya anak kecil, dan rumahnya rapi; berarti jiwa anak-anaknya tidak sehat”

Aku bilang:

  1. “Ruangan tersebut ga ada kehidupan”
  2. “Mereka ga punya anak kecil” atau
  3. “Mereka ga foto lagi 5 menit setelah itu ya berantakan juga”

Apalah arti orang tua bahagia jika anak-anak tidak bahagia. Kadang kita bekerja kesana kemari dengan alasan demi membahagiakan anak istri namun bahagia mereka sebenarnya cukup dipenuhi dengan bermain dan ‘membuat rumah berantakan’.

Jadi kami merayakan kesabaran kami.

Seperti konon pintu surga nanti berbaris malaikat-malaikat yang menyambut kami (PD) dengan ucapan selamat:

“Selamat kesejahteraan atas kesabaranmu”

Kurang lebih ucapannya begitu.

Jadi buat Anda yang memiliki rumah-rumah dengan ‘kandungan kehidupan bahagia lebih’, bersabarlah.

I love You