Pada suatu seminar pelatihan seorang pembicara bertanya pada seluruh peserta: “Pikirkan dan tulislah masalah Anda”

“Pak, harus ada masalah?” tanya saya

“Anda tidak punya masalah?” Tanya pembicara

“Saya tidak ada masalah”

“Perut Anda yang besar itu bukan masalah bagi Anda?” sambil beliau menunjuk kearah perut saya.

“Ya ini perut saya, saya sedang mengganti pola makan. Tapi ini bukan masalah bagi saya”

“Oke, Anda tulis saja apa yang sedang menjadi intention (perhatian) bagi Anda”

Lalu saya tulis diatas kertas:

5T

Ya, saya pernah dikhianati orang-orang yang saya pernah besarkan. Dari produk atau jasanya tidak laku, lalu bekerja sama dengan saya. Lalu hidupnya menghebat, berpenghasilan besar. Lalu dia mengkhianati akad perjanjian kita. Ya itu masalah dia, bukan masalah saya. (Ini kita bahas ranah akad kerjasama dan akad moral tak tertulis ya, bukan ranah: “Yang membesarkan dia adalah Allah SWT, bukan Anda; makanya dia berhak melanggar janji; eh”)

Iya kemudian pada sebuah periode karena penghianatan itu saya sempat kesulitan membayar biaya persalinan anak saya. Tapi itu bukan masalah bagi saya. Karena sehari kemudian semua bantuan datang dari banyak sumber tak terduga. Bagaimana dengan dia? Seumur hidup tercatat dia hidup dan menafkahi keluarganya dengan uang haram. Entah bagaimana mempertanggungjawabkannya. Kasihan.

Saya pernah berurusan dengan orang yang sedemikian membenci hidup saya. Oke. Lalu masalahnya dimana? Dia yang menanggung beban itu. Dia yang membangun fitnah itu dan tentu hanya perihal waktu bagi dia untuk menanggung resiko atau karmanya. Lalu masalahnya dimana bagi saya?

Ya seseorang dalam keluarga saya ada berkarakter khusus sehingga membuat beberapa anggota keluarga kami harus ekstra sabar saat berhubungan atau berinteraksi dengan dia. Lalu masalahnya dimana? Yang menanggung sikap dan sifat tersebut bukan saya. Yang kelelahan dengan sifat tersebut bukan saya.

Kenapa harus ada masalah?

Kenapa harus sempurna?

“Pak, suami saya itu kadang-kadang mendukung saya dalam bisnis ini kadang-kadang tidak mendukung saya dalam bisnis ini,” kata seseorang di Medan bulan beberapa waktu yang lalu (saat ini 24 April 2020).

“Masalahnya dimana?” tanya saya

“Ya itu Pak, suami saya”

“Ibu maunya suami ibu selalu mendukung Ibu 24 jam?”

“Iya”

“Masalahnya di Ibu, bukan di suami Ibu”

“Kok bisa Pak?

“Menurut saya, saat suami mendukung, ya Ibu jalani saja bisnis Ibu. Saat suami lagi minta perhatian lebih, ya Ibu fokus memperhatikan suami. Jangan yang lain”

Tidak perlu menunggu kondisi atau situasi sempurna untuk kita baru mau bergerak. Justru kondisi-kondisi yang kesan awalnya ‘tidak ideal’ itu akan jadi ‘kekuatan lebih’ kita dalam memulai dan terus bergerak.

I love You