Adab Bisnis, Serahkan Pada Ahlinya, Introspeksi

Ada ide bagus. Perihal web sistem. Untuk memudahkan orang menghasilkan income dengan klik klik klik. Langkah awal, cari programmer.

Dari Hisyam dapat kenalan Riz*******, Malang. Oke. Datangi, kerjasama. Harga naik-naik sendiri. Dari awal akad 2 juta, jadi 4 juta, jadi 5 juta. Oke. Kerjaan ditunggu-tunggu ga jalan-jalan. Minta uang lagi, lagi-lagi minta uang. Sistem didalamnya katanya. Oke-oke. Janji demi janji. Galau masalah ortu, janji lagi jam sekian jam sekian, ga ada kabar lagi, … | Oke lepas,

Dari Sumbodo dapat relasi Her*******, Lamongan. Oke. Susah awalnya komunikasi. Ketemuan. Setelah itu lebih susah lagi. Ngilang tanpa sebab dengan segala janji. Maksudku kalo memang ga mau ya bilang, bukan janji-janji trus ngilang. Wah ini perihal adab bisnis. Malu aku malu. Agama yang seiman bukan jaminan ahlak. Malu-maluin. Oke. Next

Dari Sumbodo lagi, dapat relasi si Dan*******, Wates, Jogja. Oke. Setelah teleconference, dengan semangat dia mau ngerjain, berangkatlah kami ke Jogja. Jam 1.30 pagi. Sampai dilokasi, meeting 4 jam. Pulang karena akan ada tamu dirumah. || Trus susah si Dan susah dihubungi. Ga respon. Nitip pesan sama teman yang kebetulan disana ga ada tanggapan. Akhirnya balik lagi ke Jogja. Ga ditemuin. Istrinya yang lagi hamil disuruh keluar nemuin dan minta maaf. Gentle sekali ini orang. Oke kami pulang.

Ketemu On*******, coba lagi membangun kepercayaan. Sampai sekarang dalam perjalanan, walau molor-molor. Namun hikmahnya dapat banyak ilmu buat pengembangan bisnis ke depan. Dari mereka sempat bertukar ide, menerima saran. Solusi keamanan, sistem transaksi, dll. Kupikir Tuhan ga menyia-nyiakan yang benar-benar berikhtiar.

Semua orang diatas bukan spesialisasi buat web yang aku mau. Cuma percaya referensi teman saja. Namun mereka bilang bisa buat. Ini ga baik. Ga serahkan pada ahlinya. Efeknya berbulan-bulan molor. Sementara klien menunggu-nunggu.

Akhirnya pagi ini aku kontak 3 orang web developer yang spesialisasi buat gituan. Wes. Bayar berapapun. Serahkan pada ahlinya. Kita lihat seminggu ini.

Done

Caraku Berbenah

Saat aku malas baca buku; doaku :

Ya Rabb, aku akui aku malas baca buku. Menunda-nunda. Ya Rabb aku mohon mapun atas kemalasanku. Aku mohon diputus koneksi negatif secara sadar dan alam bawah sadar serta organ-organ tubuhku, putus hubungan dengan kemalasan, putus hubungan dengan hal-hal di masa laluku, kemaren, saat ini, bahkan mungkin masa depanku yang membuat aku jadi malas membaca buku.

Ya Rabb, aku mengijinkan dirimu menjadi rajin membaca, menyerap ilmunya, mengolahnya menjadi pengetahuan yang dipraktekkan, diajarkan, bermanfaat buat lebih banyak orang hingga Engkau ya Rabb berkenan padaku.

Sekiranya itu. Semoga bermanfaat

 

Penyembuh Luka

Luka diturunkan dari generasi ke generasi. Buyut pemarah, kakek pemarah, ayah pemarah, aku pemarah, anakku pemarah, cucuku pemarah, cicitku pemarah. Kecuali seseorang dari generasi ini menyadari, lalu menyembuhkan luka. Kadang kita ga tau bahwa sedang ada luka. Atau tahu ada luka tapi tidak tahu itu perlu disembuhkan atau tidak. Atau sadar perlu disembuhkan, tapi ga tahu cara menyembuhkannya; kadang ga tahu juga bisa minta tolong ke siapa.

Ketika seseorang trauma melihat ibunya dipukuli ayahnya, lalu dia berjanji untuk tidak pernah memukuli wanita. Kemudian dia menjadi lelaki yang paling tajam lidahnya, sebagai ganti dia memukul. Lidahnya lebih tajam dari pukulannya andaikata dia memukul. Maka generasi itu belum sembuh. Merasa lebih baik namun tidak lebih baik. Karena merasa sembuh.

Jadi kalo kita menemukan betapa ‘unik melukai’ banyak ada dalam tindakan manusia saat ini; tanpa kejelasan logis kenapa manusia itu bertindak begini begitu, maka maklumi saja. Menjadi ‘unik melukai’ itu sudah berat. Lebih berat daripada Dilan. Menanggung luka dan trauma dalam, lalu menyalurkannya ke generasi selanjutnya (1), lingkungan dia hidup (2), dan interaksi-interaksi dia miliki (3).

Luka bisa jenis karakter buruk. Karakter yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan untuk lingkungan dia pada saat itu bahasa halusnya. Semua sedih, dia ketawa sendiri, contohnya. Bisa juga jenis batasan-batasan. Sehingga tidak bisa bebas terbang tinggi. Saat ingin atau butuh terbang tinggi. Saat semua bilang dan melihat dia bisa terbang tinggi namun dia ga bisa terbang tinggi. Ada saja selalu hal-hal yang membuat dia ga bisa terbang tinggi.

Luka bisa diturunkan dari generasi ke generasi. Yang runyam saat antar generasi saling berpasangan. Tak sadar saling menghunus saat berusaha saling memeluk. Dan sama-sama tidak mengerti kenapa bisa saling melukai tanpa henti. Lalu hal tersebut disaksikan anak-anak mereka. Dan dilanjutkan…, generasi demi generasi.

Ada yang pernah bilang, pertumbuhan usia belum tentu diiringi dengan pertumbuhan kedewasaan

Saat kita menemukan luka-luka tersebut. Dalam diri dan hubungan-hubungan. Langkah-langkah penyembuhan :

  1. Akui punya luka. Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa
  2. Doa, minta dilepaskan dari koneksi negatifnya
  3. Minta maaf. Pada diri sendiri, dan semua

Akan ada bagian-bagian beban terlepas. Sensasi tubuh melepas sesuatu. Bisa jadi. Kebanyakan gitu. Trus hidup jadi lebih enteng