Blog

Perjalanan, Mendengarkan

Kemaren

Perjalanan panjang Surabaya – Makassar – Soppeng. Terutama perjalanan daratnya dari Makassar ke Soppeng yang naik dan meliuk-liuk dengan kecepatan 60-80 km perjam. Mengerikan. Tengah malam. Abad kegelapan, eh.

Bukan perihal siapa yang akan kita sua selama perjalanan, namun cara sang sopir menaklukkan jalan ditengah malam itu. Jalan sempit, dengan kecepatan yang hampir sama jika kita di jalan tol di Surabaya – Mojokerto.

Berangkat 9 malam setelah makan di Apong – Makassar. 4 jam perjalanan direncanakan. “Percayakan pada sopirnya”, kata Yulia. Ternyata tidak mudah mempercayakan rasa aman. Walau sering kusampaikan saat mentoring bisnis : “Serahkan pada ahlinya, anda fokus pada keahlian anda”.

Asa

Aku melihat banyak orang berlarian mengejar asa mereka. Melakukan banyak hal yang mereka pikir merupakan jawaban atau solusi. Beberapa mencapai asa mereka, kebanyakan tidak. Ada yang kelelahan dan berhenti (1). Putus asa. Ada yang tidak berhenti namun tidak pernah menemukan solusi pencapaian (2). Melakukan banyak hal namun ga sampai-sampai pada asa mereka. Ada yang berganti-ganti impian dan tidak sampai-sampai (3). Ada juga yang lucu : Mensyaratkan ga ketawa dulu sampai asa tercapai. Lupa bahagia 🙂 (4)

Ada yang kemudian mencarinya di buku-buku, seminar, video, dan privat-privat lainnya (1). Ada yang mencarinya kedalam diri sendiri (2). Kontemplasi, meditasi, hingga menemukan insight. Yang nemu ya nemu, jadi orang baru. Ada ‘ngerasa nemu’ trus jadi dukun, eh. Sakti Mandratakguna. Hehe

Ada yang menyerah, lalu mencari alibi. Ah yang penting bahagia. Yang penting ortu bahagia. Yang penting mantan bahagia. Ada yang mengakui tidak mencapainya. Ada yang bersyukur, ada yang nyukurin orang. Eh,

Aku mendengar dan melihat perih dengan kualitas yang sama untuk orang yang tidak bisa membeli jam tangan yang dia idam-idamkan seharga ratusan juta (ngambegnya setahun) VS perihnya lapar. Aku mendengar dan melihat impian-impian yang sesungguhnya bukan impian milik mereka sendiri. Impian yang ditancapkan oleh orang-orang lain yang dirasa bagus, atau memang ‘pemimpi mimpi milik orang lain’ itu sedang dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan lain.

Dalam perjalanan-perjalanan panjang terkadang kita menemukan pemahaman. Untuk tumbuh. Untuk menjadi lebih baik. Untuk melihat dari luar perihal kita sendiri dan gumulan sehari-hari : Ternyata aku banyak ribut disitu, padahal sebaiknya aku disono.

Jadi saran :
Banyak-banyaklah berpikir dalam perjalanan, foto selfie itu nomor 200. Bahagiakan jiwa anda, nafkahi. Ajak ngobrol dia. Dia sangat butuh. Bukan selalu ‘ngobrol’ dengan ego anda yang sedang ingin menunjukkan ke teman-teman disuatu tempat yang entah tak peduli bahwa anda sedang bahagia disuatu tempat yang lain yang tidak lebih indah dari kamar tidur anda (atau hati anda yang sesungguhnya). Itu nomor 300 nafkahi ego.

Jadi dengarkan jiwa Anda. Apa yang sedang dia coba sampaikan. Mungkin jawabannya ada disitu. Jawaban yang selama ini anda cari. Atau jawaban yang pertanyaannya pun belum pernah ada dibenak namun ini melengkapi anda. Untuk lebih dari cukup. Dan lebih dari bersyukur.

Bukan Kondisi Ideal

Aku bertemu dengan beberapa orang. Yang mengubah hidupnya dari tidak mungkin menjadi mungkin. Yang menjawab cibiran mahluk-mahluk disekitarnya dengan tindakan nyata untuk mencapai impian, dan mereka berhasil. Yang bahkan menerima pukulan dan membalasnya dengan bantuan; pertolongan.

Bahwa kondisi yang mereka alami sebenarnya tidak ideal untuk sukses. Untuk bisa meraih semua itu. Bahkan sampai sekarang.

Terkadang dibalik semua glamour penerimaan penghargaan dan serbuan uang dari sana sini, peringkat yang selalu menanjak segera; mereka masih belum bisa berdamai atau mewujudkan impiannya untuk :

  1. Menolong keluarganya sendiri
  2. Dipercaya keluarganya sendiri
  3. Menyelamatkan lingkungannya
  4. Lepas beban dari masa lalu

Mereka kesana kemari menyelamatkan dunia, namun mereka belum berhasil mewujudkan impiannya untuk ‘dimaafkan dan memaafkan’ (dalam artian luas, bukan sekedar kepada siapa).

Kondisi yang tidak ideal itu dimiliki oleh sebagian banyak orang sukses, namun mereka merespon kondisi tidak ideal itu dengan tindakan tepat. Mereka tidak menunggu kondisi tersebut menjadi ideal, lalu baru mulai berjuang. Mereka tidak memberi syarat tertentu dulu, bahwa mereka akan bergerak jika semuanya sudah baik-baik saja. Mereka tidak sibuk menyalahkan kesana kemari dulu, mereka tidak punya waktu untuk itu.

Mereka memberi arti kondisi tersebut dengan tindakan-tindakan nyata yang menuju impian : harus segera sukses, apapun yang terjadi.

Kesimpulannya

Tidak ada kondisi ideal untuk sukses. Yang ada adalah cara memberi arti pada sebuah kondisi. Cara merespon kondisi-kondisi tersebut dengan tindakan nyata.

Ini buat kamu, iya kamu 🙂

Lelaki dan Perempuan

Lelaki menemukan dirinya sebagai lelaki, lalu membutuhkan perempuan yang memang tau sadar dirinya perempuan. Lelaki tahu, perempuan tahu. Perihal dirinya masing-masing. Lalu mereka saling tertarik. Lalu mereka bersatu.

Mereka saling tahu bahwa salah satu dari mereka adalah laki-laki dan salah satu dari mereka adalah perempuan. Sang lelaki tahu dirinya laki-laki. Sang perempuan tahu dirinya adalah seorang perempuan. Namun masing-masing dari mereka tidak tahu perihal pasangannya masing-masing. Bahwa laki-laki bukan perempuan dan perempuan bukan laki-laki.

Singkat cerita mereka sama-sama terluka, saat berusaha menjadi satu. Saat beritikad baik untuk menjadi terbaik untuk pasangannya masing-masing. Saat semua harapan terbaik diharapkan.

“Non, logikanya kan seperti ini!”

“Kenapa kok ambil keputusan seperti itu?!”

Perempuan tak bisa membantah. Di logika memang begitu. Namun perasaannya tidak bisa begitu. Perasaannya tidak bisa bahagia dengan logika seperti itu. Ini tidak bisa dibasuh hanya dengan : patuh terhadap lelaki adalah jaminan surga.

Tidak bisa mudah bahagia dengan : akadnya, janjinya kan seperti itu.

Jadi kalo kamu, kalian, anda, merasa ada sesuatu yang perihnya berkelanjutan. Perihal pasangan masing-masing. Dan tetap saling mencintai. Namun ingin lebih bahagia, bukan sekedar cinta.

Jadi kamu kalian anda dan semua rekan-rekan memiliki kegagalan berulang, perih berulang, sudah mencoba berbagai cara namun tak kunjung tercapai. Andai hitungan rugi sudah miliaran, ratusan juta, puluhan juta.

Jadi kamu kalian anda dan semua rekan-rekan di muka bumi ini rela menyerahkan Rp 25.000.000,- agar masalah beban hidup yang mencandu itu jadi pergi. Berganti bahagia. Berganti ketenangan hidup. Berganti asa-asa yang tercapai. Anda bisa menghubungi kami. Pada bagian situs ini ada sebuah nomor yang bisa di kontak. Mungkin Anda cukup beruntung dalam 1-2 minggu masalah Anda selesai.

===

Contoh narasi iklan. Iklan yang serius. Karena itu juga bagian dari jasa kami. Kami akan serahkan Anda langsung pada ahlinya. Bukan saya.

Menjual dengan Harga Lebih Wajar

Berapa harga wajar dari sebuah jasa? Atau Produk.

Jika si DjavaLmintu.com menjual harga jasa arsiteknya untuk ukuran rumah tertentu seharga Rp 200.000,- per meter; lalu ada jasa arsitek lain menawarkan Rp 20.000,- per meter; apakah DjavaLmintu serta merta dianggap menjual harga jasa lebih mahal?

Oke anggaplah lebih mahal; Apakah lebih menguntungkan atau merugikan?

Bagaimana jika jasa Rp 200.000,- termasuk didalamnya :

  1. Revisi yang hampir tidak terbatas. Karena pada prakteknya klien-klien walau sudah diakad revisi maksimal 3x. Prakteknya selama hati nyamannya belum puas, dia akan minta revisi berkali-kali hingga puas.
    Ini bukan perihal desain baju. Ini perihal desain tempat bahagia dimana seluruh anggota keluarga berkumpul yang akan dipakai hingga 50 tahun kedepan. Tidak sesuai dengan hati, maka 50 tahun tidak bahagianya.
    Daripada beresiko klien tidak bahagia, mending direvisi sampai puassss. Dan DjavaLmintu taglinenya adalah : Sampai Klien Puasss | kadang juga Make You Feel Better; hehe, ganti-ganti (sepuasnya).
  2. Jasa pemasaran properti hingga sold out untuk properti-properti komersial (maksud kami disini adalah jika propertinya didesain dan bangun untuk dijual). Ini menggantikan biaya marketing yang belum tentu jelas hasilnya.
  3. Konsultasi gratis dengan developer asli dengan beberapa projek perumahan berhasil untuk perencanaan perumahan Anda.
  4. dan masih ada 19 keuntungan lainnya yang mungkin tidak pernah akan Anda temukan di jasa arsitek Rp 20ribuan

Jadi berapa harga jasa Anda?

Kenapa ada seseorang menjual harga konsultasinya 1 miliar dan yang lain cuma 1 juta?

Ada jasa logo perusahaan 1 miliar dan yang lain cuma 100 ribu untuk jasa logonya?

Kenapa konsumen-konsumen harus membayar Anda lebih?

Kenapa ada orang yang lebih nyaman membayar 5 juta lebih mahal untuk produk yang sama? Sebenarnya apa yang sedang mereka beli? Produknya atau rasa nyaman terhadap diri mereka sendiri saat membeli produk lebih mahal tersebut?

Berpikir akan membuat Anda dan Perusahaan Anda lebih baik 🙂

Jadi mau tahu jawabnya kenapa ada orang :

  1. Mau bayar lebih mahal?
  2. Siapa orang itu?
  3. Bagaimana cara menggaet hatinya?

Jangan tanya saya atau Anda siap saya kenai ‘harga wajar’ 🙂

 

Ambil Alih (1)

Akhirnya, dibantu Alfid Van A domain YohanWibisono.com berhasil diambil alih; lalu dijadikan web blog oleh Dhyar). Setelah lengah, diambil orang 2 tahun. Dan dijadikan situs porno berbahasa entah. Ga jelas. ‘Dosa ‘ orang lengah ga memperpanjang usia domain nama pribadi, hehe 🙂

Oke, jadi kita akan merayakannya. Hari demi hari, dengan aktif blogging. Belajar menulis, menerjemahkan semua pengalaman dan rasa kedalam narasi. Disini. YohanWibisono.com. Kita akan belajar menemukan diriku. Memisahkan dari yang bukan aku. Jadi aku kan benar-benar mengenal diriku.

Ambil Alih

Untuk mengambil alih sesuatu itu dibutuhkan kesadaran. Terutama mengambil alih dari pihak lain yang siaga untuk tidak mau diambil alih (status quo). Terutama juga mengambil alih pada kondisi yang kita merasa sudah kita ambil alih, ternyata belum. Merasa sadar, ternyata belum. Merasa sudah menjadi diri sendiri, ternyata masih menjadi pemain pengganti.

Membiarkan hidup berjalan apa adanya, tanpa kesadaran bahwa harus berusaha menjadi lebih baik; itu ternyata melelahkan. Tampaknya tidak lelah, karena ngerasa ga ngapa-ngapain. Ikut arus aja. Seperti ikan tak bernyawa. Padahal, yang sering kita kurang sadari adalah :

  1. Kita akan menjadi bagian rencana orang lain. Rencana baik gpp. Lah kalo rencana ga baik gimana?
  2. Kita ga sadar, tiba-tiba sudah cukup berumur; tapi ga cukup amal; ga cukup ilmu (yang dibutuhkan untuk hidup bener)
  3. Tiba-tiba memiliki kesadaran dibutuhkan banyak orang, ternyata ga siap; ga bisa berperan. Jadi patung, penonton. Ga bisa bantu apa-apa.

Ternyata lukanya dalem (bagiku) saat aku dibutuhkan, aku ga bisa berperan banyak. Malu. Merasa mengambil rute lain yang aneh padahal ada jalur umum sebagai manusia. Saling bantu.

Jadi mulai hari ini, aku memutuskan untuk mengambil alih hidupku. Dengan kesadaran menjadi siap membantu (1), saat dibutuhkan lebih banyak orang. Dengan kesadaran harus lebih banyak belajar (2), lebih memprioritaskan mana yang sebaiknya dijalani; mana yang menghasilkan lebih powerfull; mana yang lebih mendekatkan pada tujuan (3a b c).

MCI, MLM, Bonus
Mewakili Pembagian Plakat Penghargaan Bonus 500 Juta Kedua MCI kepada Ibu Rizka sekeluarga di Jogja.

Konsekuensi

Keputusan ini membawa konsekuensi luas. Misal, menerapkan kebiasaan-kebiasaan baru. Kebiasaan yang memastikan untuk :

  1. Tetap sadar
  2. Tetap terus mengakumulasi aset jangka dunia dan akherat
    1. Ilmu
    2. Cash
    3. Kebijaksanaan-kebijaksanaan
    4. Waktu
    5. Relasi
  3. Tetap low profile (high impact); karena kalo ga low, kesapluk pesawat

Ustadz Abdul Somad

Kemaren waktu scroll-scroll disepanjang perjalanan Surabaya Jogja nemu penyampaian :

Diamnya Dzikir, Geraknya Fikir

Ada meditasi, ada kontemplasi. Salam hormat buat beliau yang selalu menginspirasi. Termasuk tulisan ini.

… bersambung