Blog

Tidak Bisa dan Tidak Sesederhana Itu

Banyak yang bilang dalam berbisnis, jangan mencintai barangnya – orangnya; yang penting cintai transaksinya; uangnya; cash flownya. Aku mencobanya, dan : fail.

Akad transaksinya adalah 3x revisi, prakteknya revisi berkali-kali ga kenai biaya tambahan sampai klien puas. Akadnya hanya bagi-bagi plakat penghargaan, prakteknya buka waktu untuk dengerin curhat dan selesaikan tantangan. Bahkan luangkan waktu khusus untuk privat belajar online untuk member tertentu dengan kebutuhan tertentu.

Beberapa cuma butuh diiklankan, kita kasih potensi ribuan web pendukung untuk ribuan marketing.

Jadi gimana?

 

Ada yang Menunjukkan Kesuksesan dengan Penampilan, Ada yang Menunjukkan dengan Prestasi

Ada yang Menunjukkan Kesuksesan dengan Penampilan
Ada yang Menunjukkan Kesuksesan dengan Prestasi

Ada yang tidak kemana-mana, tapi ada dimana-mana; pengaruhnya.

Ada yang mengejar kemenangan demi kemenangan di setiap harinya. Ada yang mengumpulkan keluhan demi keluhan.

Semua mempunyai peran

Mangga di Depan Rumah Kami

Sudah setahun ini kami kontrak bulanan di sebuah rumah daerah lontar, Surabaya. Sambil menunggu rumah kami jadi. Di perumahan RR. Dibangun dan serah terima tahun depan.

Rumah di RR yang sekarang kami tunggu, adalah rumah emosi. Rumah yang dibeli gara-gara istri ngidam hamil besar tiba-tiba pengen jadi agen properti. Propnex. 3 bulan jualan ga laku-laku tiba-tiba dia pengen beli sendiri rumah itu. Ya. Prestasi.

Kembali di rumah kontrakan ini yang sudah setahun 1 bulan kami tempati. Sebelumnya kosong lama ga ada yang tempatin. Sebelumnya lagi adalah jadi cafe warkop. Mini-mini kata tetangga, perihal yang ngelayanin.

Pada suatu hari, saat putri yang punya kontrakan datang ke rumah dia bilang :

Mbak, seumur-umur ini pohon mangga ga pernah berbuah. Ini sekarang kok berbuah?

Kami berjalan dengan pikiran kami masing-masing. Ayahku juga pernah waktu dapat tugas di pontianak jaman rusuh dulu. Ditempatkan di rumah pinggir hutan. Ada sebuah pohon yang ga pernah berbuah. Selama ayahku tinggal disana, pohon tersebut jadi berbuah.

Menurutmu karena apa?

 

 

Caraku Berbenah

Saat aku malas baca buku; doaku :

Ya Rabb, aku akui aku malas baca buku. Menunda-nunda. Ya Rabb aku mohon mapun atas kemalasanku. Aku mohon diputus koneksi negatif secara sadar dan alam bawah sadar serta organ-organ tubuhku, putus hubungan dengan kemalasan, putus hubungan dengan hal-hal di masa laluku, kemaren, saat ini, bahkan mungkin masa depanku yang membuat aku jadi malas membaca buku.

Ya Rabb, aku mengijinkan dirimu menjadi rajin membaca, menyerap ilmunya, mengolahnya menjadi pengetahuan yang dipraktekkan, diajarkan, bermanfaat buat lebih banyak orang hingga Engkau ya Rabb berkenan padaku.

Sekiranya itu. Semoga bermanfaat

 

Efek Jualan Barang Harga Rp 50.000,-

Biasanya aku jualan barang harga ga umum. Komisinya pun ga umum. Ga umum tinggi harganya maksudnya (bagiku). Jadi komisi bisa lumayan. Misal, komisi Rp 30 juta. Beberapa kali. Tapi hari ini aku jualan barang harganya Rp 50.000,-. Ada efeknya.

Sesuatu yang biasanya aku ga peduli saat membeli sesuatu atau jasa seharga Rp 50.000,- sampai Rp 200.000,-. Ini sekarang jadi mikir. Ga biasanya. Jadi ngerasa sesuatu. Eman. Aku jualan butuh kepercayaan 3 orang untuk membeli korek api Rp 135.000,- termasuk ongkir ini. Biasanya komisi Rp 30 juta dikurangi biaya korek api Rp 135.000,- ga mikir. Sekarang harus jual berkali-kali kali Rp 50.000,-.

Mungkinkah orang-orang diluar sana yang kaya raya bermiliar-miliar aset dan biasa menghitung-itung uang Rp 50.000,- dalam setiap transaksinya adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilannya dari mengakumulasi uang Rp 50.000,- demi Rp 50.000,-? Kita ngelihatnya, ngerasanya orang ini pelit sekali. Padahal ini sebuah lock rasa. Kita ngelihat secara general jumlah asetnya. Si miliarder lihat dari bagaimana dia mengumpulkan awalnya dari selembar demi selembar.

Seperti rasaku saat ini di bisnis baruku ini. Launching terbatas hari ini. Aku lepas Rp 50.000,- untuk 10 orang pertama. Replika DjavaLmintu. Agar memudahkan marketing bekerja.

Sengaja aku buat berbayar. Agar terpilih yang serius-serius saja.

 

Penyembuh Luka

Luka diturunkan dari generasi ke generasi. Buyut pemarah, kakek pemarah, ayah pemarah, aku pemarah, anakku pemarah, cucuku pemarah, cicitku pemarah. Kecuali seseorang dari generasi ini menyadari, lalu menyembuhkan luka. Kadang kita ga tau bahwa sedang ada luka. Atau tahu ada luka tapi tidak tahu itu perlu disembuhkan atau tidak. Atau sadar perlu disembuhkan, tapi ga tahu cara menyembuhkannya; kadang ga tahu juga bisa minta tolong ke siapa.

Ketika seseorang trauma melihat ibunya dipukuli ayahnya, lalu dia berjanji untuk tidak pernah memukuli wanita. Kemudian dia menjadi lelaki yang paling tajam lidahnya, sebagai ganti dia memukul. Lidahnya lebih tajam dari pukulannya andaikata dia memukul. Maka generasi itu belum sembuh. Merasa lebih baik namun tidak lebih baik. Karena merasa sembuh.

Jadi kalo kita menemukan betapa ‘unik melukai’ banyak ada dalam tindakan manusia saat ini; tanpa kejelasan logis kenapa manusia itu bertindak begini begitu, maka maklumi saja. Menjadi ‘unik melukai’ itu sudah berat. Lebih berat daripada Dilan. Menanggung luka dan trauma dalam, lalu menyalurkannya ke generasi selanjutnya (1), lingkungan dia hidup (2), dan interaksi-interaksi dia miliki (3).

Luka bisa jenis karakter buruk. Karakter yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan untuk lingkungan dia pada saat itu bahasa halusnya. Semua sedih, dia ketawa sendiri, contohnya. Bisa juga jenis batasan-batasan. Sehingga tidak bisa bebas terbang tinggi. Saat ingin atau butuh terbang tinggi. Saat semua bilang dan melihat dia bisa terbang tinggi namun dia ga bisa terbang tinggi. Ada saja selalu hal-hal yang membuat dia ga bisa terbang tinggi.

Luka bisa diturunkan dari generasi ke generasi. Yang runyam saat antar generasi saling berpasangan. Tak sadar saling menghunus saat berusaha saling memeluk. Dan sama-sama tidak mengerti kenapa bisa saling melukai tanpa henti. Lalu hal tersebut disaksikan anak-anak mereka. Dan dilanjutkan…, generasi demi generasi.

Ada yang pernah bilang, pertumbuhan usia belum tentu diiringi dengan pertumbuhan kedewasaan

Saat kita menemukan luka-luka tersebut. Dalam diri dan hubungan-hubungan. Langkah-langkah penyembuhan :

  1. Akui punya luka. Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa
  2. Doa, minta dilepaskan dari koneksi negatifnya
  3. Minta maaf. Pada diri sendiri, dan semua

Akan ada bagian-bagian beban terlepas. Sensasi tubuh melepas sesuatu. Bisa jadi. Kebanyakan gitu. Trus hidup jadi lebih enteng

 

Yang Tenang Melunakkan yang Tidak Tenang

Bersusun narasi dan hidup. Perjalanan mengakumulasi pengalaman. Generasi ke generasi dirahasiakan dan ada yang dibagikan. Kita tumbuh dengan cerita/ kisah turun menurun. Termasuk perihal ombak. Diluasan pandang saat kita tenggelam. Saat kita tidak tenang, banyak bergerak. Maka kita kan tenggelam.

Karena arus berlawanan diatas dan dibawah. Maka menenggelamkan. Saat kita tidak tenang.

Di air saat kita tenang, justru kita tidak tenggelam.

Berbagai permasalahan hidup. Bertubi-tubi. Saat tidak terurai segera, maka permasalahan yang lain menyusul. Bertumpuk campur. Saat kita berusaha menyelesaikan dengan berbagai cara, pengalaman, teknologi, dan tips-tips ribuan kita baca dan tonton. Seakan kita semakin tenggelam dengan waktu. Tiba-tiba sudah berumur, dapat tujuan belum tercapai.

Kenapa?

Hampa?

Saat tenang, saat tensi mampu kita turunkan. Dingin. Segalanya kita lepas. Ikhlas. Tiba-tiba solusi berdatangan sendiri. Ternyata yang awalnya masalah ternyata bukan masalah (1). Yang awalnya tampak tujuan hidup ideal yang harus kita capai, ternyata bukan tujuan ideal lagi (2).

Jawabannya ada di dalam. Saat kita tenang. Saat hanya nafas yang kita rasa dan tahu. Tiba-tiba semuanya sudah selesai.

Tercerahkan.

 

Susun Ulang Narasi Hidupmu untuk Mencapai Tujuanmu

Kamu siapa? Mau apa? Mau kemana? Apa tujuan-tujuanmu? Apa manfaatmu menjadi ada? Rasamu apa?

Suatu kali seorang triliuner bilang padaku secara personal saat aku memutuskan banyak belajar banyak darinya. Di suatu musim, saat kemarau panjang di batin. Mungkin karena bertubi-tubi kekurangan. Seperti pola kebiasaan menahun. Sehingga ga sadar merasa semuanya sudah benar. Padahal sebenarnya bisa diperbaiki. Triliuner itu bilang padaku :

Aku ini ga lebih sibuk darimu, tapi aku menghasilkan jauh lebih banyak darimu

Kamu harus banyak berpikir. Memikirkan banyak hal. Berpikir ulang. Temukan hal-hal yang bertentangan dalam hidupmu. Bertentangan dalam premis-premismu.

Ini bahasa dan contoh sederhananya :

Misal : Jika dulu kala aku pernah menentang dan mengharamkan MLM, lalu saat ini (20 tahun kemudian) aku terjun dalam bisnis MLM. Maka aku yang sekarang harus menemui aku yang dulu dan berdialog. “Hey apa kabarmu, ayo kita bicara…”

Saat ini mungkin aku sedang menyusun ulang tujuan hidupku. Setidaknya itu niatku. Tujuan hidup aku tulis dicatatan dan dibenak, lalu mendialogkannya dengan diriku yang kemaren – saat ini – dan diriku di masa depan. Aku dan kami menemukan banyak perbedaan. Perbedaan pandangan.

Keputusan-keputusan yang dangkal di masa lalu karena keterbatasan informasi atau kurang bijak dalam menyikapi sesuatu. Dan kami membicarakan panjang lebar. Sesering kami mampu.

Okta dan Bambang

Beberapa sahabat aku panggil. Berbagai teknik aku dengar. Beberapa buku berbicara. Dan nanti 6 oktober pun ku jadwalkan privat seminar.

  1. Tentukan tujuanmu, dan posisimu sekarang
  2. Bangun narasi indah perihal itu
  3. Lalu bungkam dan buang narasi-narasi lama dalam benak sadar maupun alam bawah sadar yang bertentangan dengan tujuanmu sekarang
  4. Bangun premis-premis searah yang saling mendukung
  5. Cek selalu progresnya

Beberapa kali tubuh bergetar. Menggigil. Melepas sampah-sampah emosi dan koneksi negatif masa lalu. Mengakuinya (1), Mohon Ampun (2), Memutuskan untuk Memutus Koneksinya (3), Demi Kebaikan Bersama (4), lalu Memohon Kebaikan pada RABB (5). Setidaknya itu skemanya.

Jika sadarmu ke timur, pastikan tidak sadarmu juga ke timur. Selalu akan ada jalan bagi yang benar-benar berusaha 🙂

 

Perjalanan, Mendengarkan

Kemaren

Perjalanan panjang Surabaya – Makassar – Soppeng. Terutama perjalanan daratnya dari Makassar ke Soppeng yang naik dan meliuk-liuk dengan kecepatan 60-80 km perjam. Mengerikan. Tengah malam. Abad kegelapan, eh.

Bukan perihal siapa yang akan kita sua selama perjalanan, namun cara sang sopir menaklukkan jalan ditengah malam itu. Jalan sempit, dengan kecepatan yang hampir sama jika kita di jalan tol di Surabaya – Mojokerto.

Berangkat 9 malam setelah makan di Apong – Makassar. 4 jam perjalanan direncanakan. “Percayakan pada sopirnya”, kata Yulia. Ternyata tidak mudah mempercayakan rasa aman. Walau sering kusampaikan saat mentoring bisnis : “Serahkan pada ahlinya, anda fokus pada keahlian anda”.

Asa

Aku melihat banyak orang berlarian mengejar asa mereka. Melakukan banyak hal yang mereka pikir merupakan jawaban atau solusi. Beberapa mencapai asa mereka, kebanyakan tidak. Ada yang kelelahan dan berhenti (1). Putus asa. Ada yang tidak berhenti namun tidak pernah menemukan solusi pencapaian (2). Melakukan banyak hal namun ga sampai-sampai pada asa mereka. Ada yang berganti-ganti impian dan tidak sampai-sampai (3). Ada juga yang lucu : Mensyaratkan ga ketawa dulu sampai asa tercapai. Lupa bahagia 🙂 (4)

Ada yang kemudian mencarinya di buku-buku, seminar, video, dan privat-privat lainnya (1). Ada yang mencarinya kedalam diri sendiri (2). Kontemplasi, meditasi, hingga menemukan insight. Yang nemu ya nemu, jadi orang baru. Ada ‘ngerasa nemu’ trus jadi dukun, eh. Sakti Mandratakguna. Hehe

Ada yang menyerah, lalu mencari alibi. Ah yang penting bahagia. Yang penting ortu bahagia. Yang penting mantan bahagia. Ada yang mengakui tidak mencapainya. Ada yang bersyukur, ada yang nyukurin orang. Eh,

Aku mendengar dan melihat perih dengan kualitas yang sama untuk orang yang tidak bisa membeli jam tangan yang dia idam-idamkan seharga ratusan juta (ngambegnya setahun) VS perihnya lapar. Aku mendengar dan melihat impian-impian yang sesungguhnya bukan impian milik mereka sendiri. Impian yang ditancapkan oleh orang-orang lain yang dirasa bagus, atau memang ‘pemimpi mimpi milik orang lain’ itu sedang dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan lain.

Dalam perjalanan-perjalanan panjang terkadang kita menemukan pemahaman. Untuk tumbuh. Untuk menjadi lebih baik. Untuk melihat dari luar perihal kita sendiri dan gumulan sehari-hari : Ternyata aku banyak ribut disitu, padahal sebaiknya aku disono.

Jadi saran :
Banyak-banyaklah berpikir dalam perjalanan, foto selfie itu nomor 200. Bahagiakan jiwa anda, nafkahi. Ajak ngobrol dia. Dia sangat butuh. Bukan selalu ‘ngobrol’ dengan ego anda yang sedang ingin menunjukkan ke teman-teman disuatu tempat yang entah tak peduli bahwa anda sedang bahagia disuatu tempat yang lain yang tidak lebih indah dari kamar tidur anda (atau hati anda yang sesungguhnya). Itu nomor 300 nafkahi ego.

Jadi dengarkan jiwa Anda. Apa yang sedang dia coba sampaikan. Mungkin jawabannya ada disitu. Jawaban yang selama ini anda cari. Atau jawaban yang pertanyaannya pun belum pernah ada dibenak namun ini melengkapi anda. Untuk lebih dari cukup. Dan lebih dari bersyukur.

Bukan Kondisi Ideal

Aku bertemu dengan beberapa orang. Yang mengubah hidupnya dari tidak mungkin menjadi mungkin. Yang menjawab cibiran mahluk-mahluk disekitarnya dengan tindakan nyata untuk mencapai impian, dan mereka berhasil. Yang bahkan menerima pukulan dan membalasnya dengan bantuan; pertolongan.

Bahwa kondisi yang mereka alami sebenarnya tidak ideal untuk sukses. Untuk bisa meraih semua itu. Bahkan sampai sekarang.

Terkadang dibalik semua glamour penerimaan penghargaan dan serbuan uang dari sana sini, peringkat yang selalu menanjak segera; mereka masih belum bisa berdamai atau mewujudkan impiannya untuk :

  1. Menolong keluarganya sendiri
  2. Dipercaya keluarganya sendiri
  3. Menyelamatkan lingkungannya
  4. Lepas beban dari masa lalu

Mereka kesana kemari menyelamatkan dunia, namun mereka belum berhasil mewujudkan impiannya untuk ‘dimaafkan dan memaafkan’ (dalam artian luas, bukan sekedar kepada siapa).

Kondisi yang tidak ideal itu dimiliki oleh sebagian banyak orang sukses, namun mereka merespon kondisi tidak ideal itu dengan tindakan tepat. Mereka tidak menunggu kondisi tersebut menjadi ideal, lalu baru mulai berjuang. Mereka tidak memberi syarat tertentu dulu, bahwa mereka akan bergerak jika semuanya sudah baik-baik saja. Mereka tidak sibuk menyalahkan kesana kemari dulu, mereka tidak punya waktu untuk itu.

Mereka memberi arti kondisi tersebut dengan tindakan-tindakan nyata yang menuju impian : harus segera sukses, apapun yang terjadi.

Kesimpulannya

Tidak ada kondisi ideal untuk sukses. Yang ada adalah cara memberi arti pada sebuah kondisi. Cara merespon kondisi-kondisi tersebut dengan tindakan nyata.

Ini buat kamu, iya kamu 🙂