“Menang Boleh, tapi Jangan Kalah”

“Menang Boleh, tapi Jangan Kalah”

20 Februari 2024
“Pergio…” kata istriku

“Tapi pulang, jangan kalah”

Aku terdiam didepan dia. Tampak lelah raut wajah istriku itu setelah beberapa hari ini kami mengurusi Langit (6 tahun) anak kami yang baru saja keluar dari RS Emma-Mojokerto.

“Aku gapapa kamu tinggal, tak hadapi semua disini, tapi rasane itu kalau kamu dah jauh-jauh kesana, kamu kalah, gagal disana, maka semua yang tak perjuangkan disini, jadi rasanya sia-sia” tambah istriku.

“Kapasitasmu lebih besar dari itu. Kalau cuma buat ngejar uang segitu, ga perlu jauh-jauh kesana, disini juga bisa”

Masih aku terdiam. Benak dan pikirku sedang membangun sesuatu. Suatu keyakinan: semestinya aku tak terkalahkan.

Aku punguti puing-puing keyakinanku, alasan-alasan kenapa semestinya aku bisa memenangkan pertarungan kali ini.

Pasukanku kecil, cuma terdiri dari 5 orang, impianku besar, kapasitas kami dibawah rata-rata. Setidaknya jauh dibawah rata-rata SDM yang kuharapkan kubutuhkan untuk terbang.
Berarti kapasitasku harus mampu membelah lautan menggunakan rumput. Agar diberi SDM model apapun, kami bisa tumbuh.

Sudah lebih dari satu tahun ini menyusuri jalan-jalan panjang menjemput dan membangun kehidupan yang lebih baik. Sahabat lama memberi kesempatan untuk membangun channel pemasaran baru yang tampaknya masih mentok mengandalkan satu channel itu saja.

Kami coba berbagai hal, dari reseller, dropshipper, affiliate, b2b, partnership, pameran-pameran di beberaa kota-event-mall-perkantoran dan lain sebagainya.

Kugedor langit berkali namun tampaknya tangan kecilku tak mampu menggoyahkan arah angin.

“Daddy, pulang”
kata Bumi, anakku 4 tahun, via video call pada suatu waktu di tiga mingguku belum pulang ke rumah. Disisi yang lain rasa belum menang, belum mencapai tujuan, membuatku ingin menemui lebih banyak orang di perantauan; namun anak-anakku juga rindu-apalagi aku.

Tuhan, setidaknya jika kemenangan ini bukan untukku, setidaknya untuk mereka. Keluargaku.

“Langit ga cocok di sekolah yang kemaren. Dia ga mau menulis dan kesulitan dengan test bahasa Indonesia. Mestinya sekolah internasional” kata istriku via telp (dulu waktu kami mencarikannya sekolah).
Ya, anakku Pijar Langit yang secara mandiri belajar bahasa inggris melalui tab yang kami ijinkan dia pakai sejak awal dulu, akhirnya membuat dia tidak berbahasa indonesia untuk sehari-hari kami berkomunikasi. Yang paling susah ya diriku ini, yang lemah berbahasa Inggris. Untung ada istriku matan guru bahasa inggris.

“Masukkan aja ke sekolah yang lebih cocok dengan dia, sisanya urusanku” jawabku.

Akhirnya kami menemukan sekolah Camel. Sekolah yang tampaknya lebih siap menerima kebutuhan anak kami. Sekolah yang mengijinkan siswa siswinya untuk tumbuh dengan bakat dan minatnya. Walau tidak bisa 100% menggunakan bahasa pengantar bahasa inggris, misalnya untuk pelajaran bahasa jawa, maka guru pengajarnya berbahasa indonesia-jawa.

Dengan target kelas 4 sudah bisa hafal juz 30, melihat siswa siswi dengan santun sungkem ke guru-gurunya setelah sholat; rasa-rasanya memperjuangkan uang pangkal masuk sekolah Langit, layak diperjuangkan.

“Ini uang pangkalnya bisa dicicil 3x” kata calon gurunya Langit. Disampaikan setelah Langit melewati test awal masuk ke sekolah tersebut.

“Bu, kami ini tahun ini sedang berjuang lepas dari riba. Bolehkah kami cicil sesuai kemampuan kami? Yang penting, sebelum anaknya masuk sekolah, insya Allah sudah lunas” kataku.

“Boleh Pak, pokoknya dibicarakan dulu”

———-
20 feb 2024

Pagi datang, langit mulai membawa cahaya. Keretaku hampir sampai ke Bandung. Turangga dari jam 20.35 Mojokerto sampai ke Bandung esoknya 06.00.

Nanti jam 09.00 aku kumpulkan timku.

“Nanti pulang, tak bawa kemenangan” kataku ke istriku kemaren sebelum berangkat, saat packing tas-tas.

Biasanya aku diam-diam pergi tanpa diketahui Bumi. Karena dia paling susah ditinggal saat pergi. Anakku no 4 yang selalu menempel denganku sepanjang waktu selama setiap hari aku di Mojokerto.

Tapi kali ini aku bilang baik-baik.
“Papi kerja dulu ya”
Dia tampak cuek sambil terus bernyanyi balonku ada lima. Berulang-ulang kucoba mengarahkan wajahnya kearahku, “Papi kerja dulu ya”

Aku berharap dia mengerti dan mau mengerti bahwa sekali lagi aku harus meninggalkan dia berminggu-minggu untuk menjemput impian kami.

Saat mobil gocar ertiga putih datang dan berhenti didepan rumah kami, dia mulai tampak resah, berlari kesana kemari lalu tampak ingin ikut naik ke mobil, istriku mencoba menenangkan dia namun tidak membuahkan hasil, saat aku mulai masuk ke mobil dia berusaha untuk ikut juga dan istriku menahannya, pecahlah tangisnya…

Aku gapai tangannya aku harap bisa sedikit menghiburnya, “Papi kerja dulu ya”

Mobil berjalan, aku berusaha mengalihkan perhatianku agar tidak hanyut.

Kali ini aku harus memenangkan pertarunganku.

Kelemahan dari sistem reseller adalah tidak bisa kami mengontrol harga di pasar. Saat reseller butuh duit cepat, maka dengan mudah dia menjual produk kami dibawah harga yang telah kita sepakati.

Ada beberapa cara meminimalisir hal tersebut, namun tidak terlalu efektif juga. Apalagi kalau sudah terupload di market place atau sosial media.

Kemaren kita sempat kembangkan sebuah sistem reseller get reseller. Sebagai reseller, pasukan penjualan kita bisa mengajak relasinya untuk menjadi reseller juga

Tapi sekali lagi… kami kalah…

One thought on ““Menang Boleh, tapi Jangan Kalah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top